Rabu, 07 Desember 2011

Beri Aku Perisai Jiwa Dari 'Arasy-Mu

Aku seorang pemudi Islam, begitulah yang ku tahu ketika aku beranjak remaja. Bagaimana tidak? Aku terlahir dari keluarga yang beragamakan Islam, sejatinya akupun mewarisi agama itu. Sejak kecil, aku diajarkan bagaimana mengenal agama yang menjadi kepercayaan dalam keluargaku, bagaimana sikap dan bertindak selayaknya seorang yang berstatuskan Muslim. Makan dengan tangan kanan dengan mendahulukan bermunajat pada Dzat yang telah memberi kami rezki.

Yang ku tahu sewaktu kecil saat aku bersekolah di taman kanak-kanak, guruku mengajarkan bahwa anak yang baik dan manis itu adalah anak yang mencintai Tuhan-nya dan menyayangi ibu-bapaknya seperti yang diajarkan agama kita, yaitu agama Islam. Dalam persepsiku saat masih kanak-kanak, Islam adalah agamaku saat itu yang penuh dengan kehangatan dan kasih sayang, hingga pada hari ini persepsi itu masih tetap sama, meski aku tahu sudah banyak kejanggalan yang ku temui dalam dunia ini menyangkut Islam.

Saat itu tahun 1997 di bulan Juli, saat aku mulai mempersiapkan diri menerima pelajaran pertama di taman kanak-kanak. Dengan langkah gontai, ku langkahkan kaki kecilku berlari menuju guruku yang saat itu membawa majalah baru dari kantor kepala sekolah. Saat itu waktu untuk bu guru bercerita. Ya, bu guru bercerita seperti biasa yaitu kisah tentang keteladanan para manusia pilihan Allah, yaitu Nabi dan Rasul.

Hari itu, tibalah giliran kisah teladan manusia paling sempurna pilihan Allah. Ya... Nabi Muhammad SAW. Kami bersorak saat bu guru menyebutkan nama sang baginda Rasul. Karena yang kami tahu, nama Muhammad banyak terdapat dalam do'a dan ayat-ayat pendek serta bacaan sehari-hari kami. Contohnya saja dalam praktek adzan dan shalat, setelah kalimat "Asyhaduallaa ilaa ha illallaah" pasti langsung disambut dengan kalimat "Waasyhaduanna muhammadarrasulullah". Sehingga timbul rasa keingintahuan ku, bagaimana betul Nabi yang satu ini, kenapa hanya nama-nya saja yang paling banyak ku dengar?

Bu guru bercerita dengan gayanya yang membuat kami tertarik untuk mendengarkan apa yang beliau sampaikan. Maklumlah, saat itu kami masih kanak-kanak dan polos, belum paham betul dengan cerita luar biasa seperti itu. Namun, dengan atraktif dan penuh ekspresif, serta dikemas dengan gaya yang menarik minat anak-anak, ku dengarkan kata per kata, kalimat per kalimat yang dilontarkan bu guru.

Dan hingga cerita itu berakhir dengan kata "tamat", dapat ku tangkap bahwa Muhammad itu benar-benar manusia "super power". Dalam penderitaan-nya tetap ada saja kebahagiaan dan hikmah yang menjadi teladan bagi umatnya, yaitu umat Islam, baik terdahulu hingga sekarang bahkan sampai pada masa sekarang ini, yaitu masa dimana  giliranku untuk lahir ke dunia dan menikmati bumi-nya Allah, sang Khalik.

Berpindah dari zaman Rasulullahyang berusaha menegakkan Islam dengan susah payah, kita beralih ke zaman sekarang ini, yang disebut sebagai zaman modern. Bagaimana aku melihat perubahan demi perubahan yang terjadi dalam kehidupan umat Islam yang baik dan hakiki di masa lampau seperti yang diterangkan keluarga dan guru ngajiku di Masjid, dan yang diceritakan guru taman kanak-kanakku dahulu, dengan keadaan umat Islam di masa sekarang yang jauh dari ajaran Islam itu sendiri. Lalu, apa yang mendasari perubahan pola pikir umat Islam dahulu dengan umat Islam masa sekarang? Dan beda Islam dahulu ketika di masa Rasul dan Kulafaur Rasyidin dengan Islam masa sekarang? Padahal masa saat aku masih kanak-kanak dengan masa aku yang sekarang ini, masih tergolong dalam satu fase, yaitu fase Islam setelah tahun 1800, namun sangat bertolak dengan pemahaman tentang Islam yang hakiki bagi masyarakat di masa kini. Lalu, ada apa di masa Islam setelah tahu 1800 ini?

November 2011, saat aku beranjak dari masa kanak-kanak dan mulai melangkah manuju masa remaja-dewasa, di suatu malam ku temukan sebuah artikel yang memuat tentang kehidupan umat Islam saat sekarang ini, dan mungkin bisa menjawab rasa penasaranku. Dalam artikel Islami oleh Dakwatuna, yang berjudul "Realita Umat Islam Sekarang", bahwa tidak dapat dipungkiri era sekarang adalah era Amerika Serikat (al-Ashr al-Amriki). Seluruh dunia memiliki ketergantungan yang sangat besar terhadap AS, Israel dan sekutunya. AS dan Eropa yang beragama Nasrani, dan Israel yang beragama Yahudi sangat kuat mencengkeram dunia Islam. Begitulah bunyi baris pertama artikel itu. Na'udzubillaah...

Beginilah nasib dunia Islam di akhir zaman yang diprediksikan Rasulullah SAW. Mereka akan mengikuti apa saja yang datang dari Yahudi dan Nasrani, kecuali sedikit diantara mereka yang sadar. Dan prediksi tersebut sekarang benar-benar sedang menimpa sebagian besar umat Islam dan dunia Islam.

Baru kemaren rasanya aku mengalami hal itu. Hal yang membuatku berpikir akan sesuatu. Sesuatu yang "real" dan terjadi dalam kehidupanku dan yang ku alami sendiri. Ini adalah kisahku, kisah teman-temanku, dan mereka semua juga sebagian dari umat Islam masa sekarang.

Saat jam pulang kampus itu datang, aku diajak oleh salah seorang temanku yang perempuan untuk pergi merayakan keberhasilannya atas indeks prestasinya yang sangat bagus di kampus. Dia adalah teman dekatku. Kami selalu pulang dan pergi kampus bersama. Kupikir, hanya aku dan beberapa orang teman perempuan kami saja yang ia undang, ternyata juga kekasihnya turut ia ajak. Aku tahu dia memilki teman lelaki spesial, tapi, aku risih jika harus melihat dia dan kekasihnya itu berduaan sepanjang jalan bak sepasang suami-istri. Dan bukan hanya itu saja, kejadian janggal yang ku lihat. Beberapa dari teman perempuanku yang lain, juga mengajak kekasihnya dalam acara yang seharusnya hanya aku dan mereka saja yang merayakannya, tanpa para ikhwan yang bukan siapa-siapa mereka itu. Aku jadi sedih melihat keadaan yang terjadi. Tapi itulah faktanya. Dan ironisnya, aku tak dapat berbuat apa-apa, bahkan tak mampu melarang mereka.

Awalnya aku menolak ajakan itu setelah tahu kejadian ini. Namun mereka semua tentu tidak setuju dan memaksaku agar tetap ikut berpartisipasi dalam acara temanku itu. Bahkan yang punya acara mengancam dengan merajuk jika aku tidak ikut. Akhirnya, ku putuskan untuk menyetujui permintaan mereka, dengan harapan di dalam hati ini, aku bisa mengawasi jika ada perbuatan keterlaluan yang mungkin terjadi, dan mungkin bisa aku cegah, karena aku termasuk orang yang mereka segani.

Kami diajaknya ke sebuah kafe kecil dan dipersilahkan untuk memesan makanan yang kami inginkan. tidak hanya sampai disitu saja, kejadian lain pun terjadi. Selesai makan, temanku dan kekasihnya itu pergi berfoto bersama di dekat sungai kecil di samping kafe. Oh tidak! Mereka berpose mesra sekali, untuk ukuran orang yang belum memiliki ikatan sakral. Inikah generasi Islam masa kini? Inikah ajaran Islam masa sekarang yang mereka tafsirkan? Lalu, dimana pengajaran Islam yang selama ini mereka pelajari dari kecil, minimal dari orang tua mereka?

Tidak dapat dipungkiri, bahwa seiring perubahan zaman, pola pikir manusiapun berubah. belum lagi aku merasa pengaruh kuat dan konspirasi negara non-Muslim mendominasi negara yang mayoritas Muslim seperti di negara ini, Indonesia!

Selang beberapa waktu setelahnya, aku putuskan tak akan mau ikut lagi dalam acara apapun jika akhirnya seperti itu kejadiannya. Memang, mereka tidak melakukan hal-hal yang sampai melukai diri mereka sendiri nantinya, hanya saja aku merasa ini bukanlah ajaran Islam yang hakiki. Bagaimana Al-Qur'an dengan jelas menerangkan tata pergaulan antara laki-laki dan perempuan, tidak sama dengan yang kutemui di lapangan. Oh Tuhanku, apakah bumi akan sampai pada masanya? Inikah akhir zaman itu? Lindungi hamba Ya Allah...

Teringat oleh ku sebuah mutiara hikmah yang ku kutip dari internet yaitu sebuah rangkaian kata yang membuatku merinding. Sebuah mutiara kata dari Salman al Farisi/Az Zuhd, Imam Ahmad yang berbunyi : "Aku tertawa (heran) kepada orang yang mengejar-ngejar dunia padahal kematian terus mengincarnya, dan kepada orang yang melalaikan kematian padahal maut tak pernah lalai terhadapnya, dan kepada orang yang tertawalebar sepenuh mulutnya padahal tidak tahu apakah Tuhannya ridha atau murka terhadapnya".

ya.. inilah keadaan yang harus kujalani, semoga Allah senantiasa menjaga dan melindungi umat-Nya yang patuh dan taat serta senantiasa bertasbih memuji keagungan-Nya. Aamiin....

oleh Vegi Virgora Hardi pada 7 Desember 2011 pukul 16:39

Tidak ada komentar:

Posting Komentar