Agak seperti lagu, tapi ini nyata. Ayah aq pny cerita, tentang kisahku dn dunia. Bunda q pny kisah, tentang hidupku yg seumur jagung kta ayah. Ayah, bunda, cerita ini ttg adik kecil qt yg tengah jatuh cinta. kini ia baru mengenal dunia, berjabatan dg cinta, dn berpikir bahwa begitu mudah membalikan dunia. Adik laki2ku yg meyakini cinta ada dimn mn, cinta yg menurutnya semanis gula.
Duhai, adik.. Betapa gelinya aq, melihatmu soalah melakukan pengakuan dosa, saat kau blg jatuh hati padanya, seorang gadis remaja dg senyum malu2.
Ayah, bunda, inilah adik kecil qt. Skrg ada yg lain dimatanya. Hatinya tak lg setenang toba dikala senja. Bkn hanya kita, Kini ada yg lain di sudut hatinya.
Ayah, lihatlah senyumnya..lihatlah tingkah anehnya..pahamilah kebingunganya. Bunda, lihatlah lucunya ia dg minyak rambut dn parfume pertamanya. Ah, mgkin kini saatnya qt mengalah. Membiarkan adik menambahkan warna. Ayah, larangan itu salah. Bunda, menyadarkanya pun bkn penyelesaian. Tak perlu ada yg disadarkan, tp biarlah diselesaikan kisahnya. biarkan ia belajar dr perjalananya. Biar ia nikmati getaranya, biar ia obati luka2nya.
Bunda, aq pun bimbang melihatnya. Bagiku pun tak selayaknya kalau ia harus kecewa. Tak adil jika ia hrs menelan pahit krn harapan manisnya. Tapi nda, cinta bkn cerita...cinta adalah rasa.
Ayah, jgn lg potong cabang itu. Percayalah, batang bs tetap lurus biarpun penuh cabang. Jgn lg hapus warna itu, jika tak ingin lukisanmu jd hambar lg.
Adik, dg senyumku itu berarti setuju. Berhentilah mendekap bantalmu. Berdiri, jgn hanya bermimpi. Rasakan manisnya, kecapilah pahitnya. Suatu saat kau akan tersenyum mengenangnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar