Hujan,,,
Selalu dekat dengan romantisme. Jejaknya hampir selalu menyisakan semburat merah jambu di hati para belia.
“Pagi ini hujan deras… coba lihat ke jendela dan hitung tiap titik hujan itu.
Kenapa? Katamu banyak? Iya, memang banyak…
dan percayalah…sebanyak itu rinduku untukmu ….”. #hahaha ^^
Kau sering mendengarnya bukan? Atau seperti ini,
“Di setiap tetes hujan, ada malaikat yang membawa kasih dan cinta setiap insane. Kuharap, titipan hatiku telah sampai padamu”. #gombal abiss -_______-
Hujan…, lagi-lagi cerita tentang kasih, damai yang terselubung manis di hati-hati para manusia. Tak jarang sebuah kisah hidup dimulai dari episode “hujan”. Entah itu berbagi tempat berteduh, berbagi perapian, pun sekedar bersilangan jalan di bawah rintik hujan. Banyak yang mencintai hujan dan kisah kasih di dalamnya, seperti utophia,,
“rinai hujan basahi akuu…., temani sepi yang mengendap….
……..
…aku selalu bahagia, saat hujan turun, karena hujan pernah menahanmu disini, untukku….”.
Lagi-lagi hujan kan. Aura hujan benar-benar dekat dengan aura romantisme. Hujan, air, bias, pelangi…. 1 hal yang selalu ingin kutambahkan di belakang pelangi adalah senyum matahari. Bukan melulu hujan. Pelangi itu indah tetapi tidak akan ada pelangi jika matahari tidak tersenyum. Tanpa matahari, titik-titik air itu tidak akan terbiaskan dan putih tetap monokrom yang nyata, tidak berwajah poli ketika ia menjelma matahari.
Coba kau pikir, siapa yang paling berjasa untuk setiap cerita semburat merah jambu itu? Hujan atau matahari? Kalau kau tanya aku, maka pasti kujawab matahari kawan. Pikirkan, matahari itu tetap disana, tidak bergeser tapi memberikan ruang gerak untuk hujan agar menumpahkan rintiknya, bersama kisah-kisahnya. Dan hampir selalu terlupa itu juga prakarsa matahari. Jika tidak ada yang bersinar, bagaimana air menguap dan membentuk awan-awan hujan. Lalu ia akan mengintip malu-malu dari balik horizon, menerangi titik-titik air itu, hingga terbias, membentuk untaian warna-warni, yang indah. Sesuatu yang kau sebut pelangi. Jadi, berterima kasihlah pada matahari. Yang selalu menyisipkan pesan kasih pada semesta di setiap partikel cahayanya. Sabarlah, mungkin kisahmu sedang dirakit dalam sekian nano atom partikel cahayanya.
Menurutmu, tulisanku ini aneh atau wajar? Hm, jika kau membaca tulisan ini dengan tersenyum-senyum. Mungkin engkau memang aneh, kawan. Dan sekali lagi, aku berhasil membuatmu aneh setelah cerita cupid-ku. heheheee,,,
nb : ide tertuang begitu saja, deras seperti hujan saat ini. Haduuuh hujan benar-benar menjadikan ku semakin galau dan cendrung ber melankolis ria. haha :)))
dikutib dari punya seseorang maaf ya belum ngizin...
Selalu dekat dengan romantisme. Jejaknya hampir selalu menyisakan semburat merah jambu di hati para belia.
“Pagi ini hujan deras… coba lihat ke jendela dan hitung tiap titik hujan itu.
Kenapa? Katamu banyak? Iya, memang banyak…
dan percayalah…sebanyak itu rinduku untukmu ….”. #hahaha ^^
Kau sering mendengarnya bukan? Atau seperti ini,
“Di setiap tetes hujan, ada malaikat yang membawa kasih dan cinta setiap insane. Kuharap, titipan hatiku telah sampai padamu”. #gombal abiss -_______-
Hujan…, lagi-lagi cerita tentang kasih, damai yang terselubung manis di hati-hati para manusia. Tak jarang sebuah kisah hidup dimulai dari episode “hujan”. Entah itu berbagi tempat berteduh, berbagi perapian, pun sekedar bersilangan jalan di bawah rintik hujan. Banyak yang mencintai hujan dan kisah kasih di dalamnya, seperti utophia,,
“rinai hujan basahi akuu…., temani sepi yang mengendap….
……..
…aku selalu bahagia, saat hujan turun, karena hujan pernah menahanmu disini, untukku….”.
Lagi-lagi hujan kan. Aura hujan benar-benar dekat dengan aura romantisme. Hujan, air, bias, pelangi…. 1 hal yang selalu ingin kutambahkan di belakang pelangi adalah senyum matahari. Bukan melulu hujan. Pelangi itu indah tetapi tidak akan ada pelangi jika matahari tidak tersenyum. Tanpa matahari, titik-titik air itu tidak akan terbiaskan dan putih tetap monokrom yang nyata, tidak berwajah poli ketika ia menjelma matahari.
Coba kau pikir, siapa yang paling berjasa untuk setiap cerita semburat merah jambu itu? Hujan atau matahari? Kalau kau tanya aku, maka pasti kujawab matahari kawan. Pikirkan, matahari itu tetap disana, tidak bergeser tapi memberikan ruang gerak untuk hujan agar menumpahkan rintiknya, bersama kisah-kisahnya. Dan hampir selalu terlupa itu juga prakarsa matahari. Jika tidak ada yang bersinar, bagaimana air menguap dan membentuk awan-awan hujan. Lalu ia akan mengintip malu-malu dari balik horizon, menerangi titik-titik air itu, hingga terbias, membentuk untaian warna-warni, yang indah. Sesuatu yang kau sebut pelangi. Jadi, berterima kasihlah pada matahari. Yang selalu menyisipkan pesan kasih pada semesta di setiap partikel cahayanya. Sabarlah, mungkin kisahmu sedang dirakit dalam sekian nano atom partikel cahayanya.
Menurutmu, tulisanku ini aneh atau wajar? Hm, jika kau membaca tulisan ini dengan tersenyum-senyum. Mungkin engkau memang aneh, kawan. Dan sekali lagi, aku berhasil membuatmu aneh setelah cerita cupid-ku. heheheee,,,
nb : ide tertuang begitu saja, deras seperti hujan saat ini. Haduuuh hujan benar-benar menjadikan ku semakin galau dan cendrung ber melankolis ria. haha :)))
dikutib dari punya seseorang maaf ya belum ngizin...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar